Minggu, 29 November 2009
MENJAJAH & MENJAJAL
Temen saya bilang, kalau dijajah bangsa sendiri malah enak. Soalnya itu berarati memberi kesempatan kepada bangsa sendiri untuk hidup lebih kaya, lebih senang, lebih berkuasa. Daripada kekuasaan dan kekayaan itu dikasih ke bangsa yang beda warna kulit. Jadi lebih baik dijajah bangsa sendiri dibandingkan dijajah bangsa lain ya toch.! Itulah paham nasionalisme, menyamakan orang dari warna kulit, bukan dari ideologi.
Ngomong-ngomong soal jajah menjajah tidak ada hubungannya dengan jajal menjajal. Meskipun tinggal ganti hutuf dari h (jajah) menjadi l (jajal) maknanya berbeda jauh. Menjajal itu mencoba kekuatan orang lain, siapa tahu dia lebih lemah ketimbang diri sendiri. Kalau ternyata yang dijajal itu lebih sekti (sudah terlihat cara mengangkis jurus pertama) maka lebih baik kita mengalah sajalah.
Pada awalnya yang datang bangsa Portugis, menjajal dulu di Banten. Eh,.. ternyata orang Banten lebih sakti,.. Para portugis itu terbirit-birit, larilah ke Maluku. Orang Maluku dijajal lagi, berhasil ditipu daya akhirnya dari menjajal jadi menjajah.
Selasa, 24 Februari 2009
MEMANAGE PIKIRAN AGAR BAHAGIA
Setiap orang memiliki pendapat dan definisi yang berbeda tentang kebahagiaan. Untuk lebih memudahkan saya mencoba untuk membagi ke dalam 3 macam tipe manusia yang mendefinisikan arti bahagia.Edisi MANDIRI kali ini menyajikan artikel-artikel yang ditulis oleh mahasiswa program Magister Manajemen Unggulan Universitas Bina Nusantara sebagai salah satu tugas dalam mata kuliah People Skills. Keterampilan ini (people skills) merupakan dua dari tiga kompetensi utama yang perlu dimiliki oleh seorang manajer, yaitu: intra-personal skills (self management) dan inter-personal skills (relationship, communication and networking), selain dari kemampuan analytical skills (hardskills dalam bidang manajemen seperti: marketing, finance, organization, information technology, dll).Oleh: Dwi Sanjaya Tipe I adalah orang yang mengatakan bahwa dirinya akan merasa bahagia jika apa yang telah lama diinginkannya dapat tercapai. Biasanya orang tipe I ini mengapresiasikan kebahagiaan dengan banyaknya benda – benda material yang dapat dimiliki (materialism). Misalnya orang tipe I ini akan merasa bahagia jika ia dapat memiliki sebuah rumah mewah dan megah dan tinggal di dalamnya, atau ia akan merasa bahagia jika dapat memiliki banyak mobil mewah. Dengan kata lain manusia tipe I ini akan merasa bahagia jika ia memiliki banyak uang sehingga bisa membeli apa pun yang ia inginkan.Sedangkan manusia dengan tipe II adalah mereka yang merasa bahagia jika mereka dapat meraih kesuksesan. Kesuksesan yang diperolehnya ini bisa berupa kesuksesan dalam studi maupun karier. Manusia bertipe II ini tidak terlalu menilai kesuksesan ini dengan banyaknya materi yang diperoleh, tetapi lebih memfokuskan diri untuk meraih keberhasilan (achievements) dalam segala bidang yang ditekuninya. Di samping itu ada juga manusia yang merasa bahagia jika ia dapat bersama dengan seseorang yang ia cintai, atau dengan kata lain telah menemukan cinta sejatinya dan membentuk keluarga yang bahagia (loving and fulfilling relationship). Manusia dengan ciri seperti ini saya masukkan ke dalam tipe III.Selain ketiga tipe manusia yang baru saja saya sebutkan di atas, masih ada lagi tipe manusia lain yang mendefinisikan arti bahagia. Namun sebagian besar, manusia mengatakan bahwa ia akan merasa bahagia jika telah mendapatkan hal-hal tersebut di atas.Mengapa Kebahagiaan Sulit Didapatkan ?Di dunia ini, kita banyak menjumpai orang yang merasa tidak bahagia. Setelah ditelusuri, orang – orang tersebut memiliki alasan yang berbeda-beda mengapa mereka merasa tidak bahagia. Ada yang mengatakan bahwa mereka tidak bahagia karena mereka selalu hidup dalam kekurangan, ada pula yang merasa tidak bahagia karena belum menemukan pasangan hidup yang tepat, ada pula yang tidak dapat menemukan kebahagiaan dalam keluarganya karena tidak adanya keharmonisan dalam keluarga tersebut. Atau dengan kata lain mereka tidak berhasil mendapatkan apa yang mereka dambakan atau impikan.Selain itu, kita juga banyak menemukan orang yang tidak pernah puas dengan apa yang telah diperoleh atau dimilikinya, sehingga apabila orang tersebut telah berhasil meraih sesuatu, ia tidak pernah sempat untuk menikmati kebahagiaan dengan apa yang telah diperolehnya itu dan kemudian membuat target baru untuk dicapainya, dan begitu seterusnya. Dan orang ini akan selalu merasa cemas apabila tujuan berikutnya tidak tercapai. Hal lain mengapa manusia tidak dapat merasakan kebahagiaan adalah karena manusia cenderung untuk merenungi nasib buruk yang telah menimpanya dan tidak mau berbuat sesuatu untuk memperbaikinya. Mereka terlalu terpaku pada hal yang telah berlalu dan tidak dapat melupakan masa lalunya yang pahit. Padahal jika ia mau mencoba untuk keluar dari masa lalunya yang kelam, ia kemungkinan besar masih dapat menemukan kebahagiaan.Satu hal lagi yang tidak kalah pentingnya adalah kecenderungan manusia untuk berbuat mengikuti kata hati dan hawa nafsunya yang sering menjerumuskan manusia ke dalam dosa dan menyebabkan manusia itu terjerumus dalam lembah kesedihan.Dosa manusia saya kelompokkan menjadi 7 macam yang merupakan dosa bawaan yang pada dasarnya terdapat dalam diri setiap pribadi. Dosa-dosa tersebut yaitu hawa nafsu, serakah, egois, iri hati,mudah tergoda, suka menyimpan dendam, dan emosional.Semua perbuatan dosa tersebut seringkali membuat manusia tidak dapat merasakan kebahagiaan dalam dirinya.Bahagia vs Tidak BahagiaBerikut saya akan coba untuk memaparkan beberapa kisah orang yang berbahagia terlebih dahulu. Kisah pertama adalah kisah tentang seorang pria yang sejak muda selalu berusaha menemukan kebahagiaan dari dalam dirinya dengan cara melalui meditasi. Untuk itu ia mencari tempat-tempat yang sepi dan kemudian mendalami kemampuan meditasinya. Sejalan dengan berlalunya waktu, kemampuan meditasinya meningkat sampai suatu saat ia berhasil menemukan kebahagiaan sempurna ketika sedang bermeditasi di bawah pohon Budhis dan mendapatkan pencerahan. Orang tersebut dikenal dengan nama Budha Gautama yang kemudian menjadi pelopor lahirnya agama Budha. Kisah yang lain adalah kisah seorang pria yang setiap harinya sibuk dengan pekerjaannya. Siang malam ia bekerja dengan keras, seringkali ia merelakan waktu istirahatnya, merelakan waktu rekreasi bersama dengan istri dan anak-anaknya dan kurang perhatian terhadap kehidupan sosial di lingkungan sekitarnya. Sehingga yang ia fokuskan adalah hanya pada pekerjaannya. Pada suatu ketika, pria tersebut mendapatkan kecelakaan pada saat ia sedang mengendarai mobilnya ke tempat kerjanya. Kecelakaan tersebut melukai kedua belah matanya dan membuat pria tersebut buta seumur hidupnya. Setelah menjadi buta, ia tidak dapat bekerja dengan keras lagi seperti sebelumnya. Ia lalu banyak menggantungkan hidupnya pada pertolongan orang lain, terutama pertolongan istri dan anak-anaknya. Istrinya merasa kasihan kepadanya dan merawatnya dengan penuh kasih sayang. Begitu pula dengan anak-anaknya juga memberikan perhatian yang mendalam kepada ayahnya. Sang pria baru merasakan betapa besar kasih istri dan anak-anak kepadanya setelah ia buta dan tidak dapat mengerjakan apa-apa. Ia baru menyadari akan kurangnya perhatian dan kasih sayang yang ia berikan kepada istri dan anak-anaknya selama ini. Dengan keadaannya tersebut, ia baru dapat merasakan hidupnya lebih berarti dan menemukan kebagiaan dalam hidupnya. Hikmah yang dapat diambil dari cerita singkat tersebut adalah bahwa kita seringkali tidak dapat merasakan arti hidup ini, sampai kita kehilangan sesuatu yang berharga dari dalam diri kita. Kisah berikut yang tidak kalah menariknya adalah kisah seorang nelayan yang pekerjaannya mencari ikan. Dalam melakukan pekerjaannya, ia selalu mengerjakannya dengan santai dan tidak menggunakan cara-cara canggih untuk menangkap ikan. Ia selalu menangkap ikan dengan menggunakan pancingan yang ia miliki sambil menikmati apa yang dikerjakannya. Pada suatu saat ada seorang dari kota yang dalam hidup sehari-harinya bekerja keras mencari nafkah pergi berlibur dengan memancing. Pada saat ia sedang memancing, ia bertemu dengan sang nelayan. Sang nelayan sedang memancing sambil berbaring santai tanpa beban, sedangkan si pemancing memancing dengan agresif. Kemudian orang kota tersebut bertanya kepada sang nelayan mengapa ia bisa begitu santainya memancing padahal profesinya adalah sebagai nelayan, sedangkan dirinya yang saat itu sedang berlibur saja memancing dengan penuh agresivitas. Kemudian sang nelayan tersebut bertanya balik kepada orang kota itu mengapa bekerja begitu keras di kota. Si orang kota tersebut kemudian menjawab: ”Untuk mencari uang sebanyak-banyaknya, sehingga dapat menikmati hidup”. Lalu sang nelayan menjawab, ”Jadi Anda bekerja dengan keras dengan tujuan utama menikmati hidup? Untuk apa bekerja dengan keras kalau saat ini saja saya sudah dapat menikmati hidup. Saya selalu menikmati perkerjaan saya dan hidup saya.”Hikmah yang dapat ditarik dari kisah yang ketiga ini adalah bahwa banyak orang yang berpikir terlalu jauh untuk dapat menikmati hidup. Hal yang sangat sederhana untuk dapat menikmati hidup adalah dengan menikmati setiap pekerjaan yang kita lakukan. Setelah membaca kisah-kisah orang yang bahagia, sekarang saya akan coba untuk menceritakan beberapa kisah orang yang hidupnya tidak bahagia.Kisah pertama adalah tentang seseorang yang hidupnya selalu diisi dengan kerja keras, mencari uang dan uang. Itulah tujuan hidupnya, uang yang telah diperolehnya digunakan untuk berinvestasi lagi, dan lagi. Jarang Ia mau mengeluarkan uang tersebut untuk keperluan dirinya, apalagi orang lain. Sehingga orang tersebut hanya bekerja untuk melipatgandakan uang yang dimilikinya. Ia jarang sekali menikmati hari-hari yang dilaluinya bersama anak istrinya. Ia juga tidak bisa menikmati apa yang telah diperolehnya karena ia selalu merasa tidak pernah puas. Orang yang demikian adalah orang yang menyedihkan, karena walaupun sebenarnya ia kaya raya, namun sebenarnya jiwanya miskin sekali. Berikut adalah kisah seorang anak yang selalu cemas akan masa depan dan menunda diri untuk dapat menikmati hidup. Pada saat ia lulus Sekolah Dasar, ia berkata pada dirinya sendiri bahwa ia baru akan dapat menikmati hidup kalau ia telah lulus SMP. Dan pada saat ia lulus SMP, ia berkata bahwa ia baru akan dapat menikmati hidup kalau sudah lulus SMU. Dan begitu ia lulus SMU, ia berkata pada dirinya lagi bahwa ia baru akan dapat menikmati hidup jika telah menjadi sarjana. Setelah ia sarjana, ia masih belum dapat menikmati hidup dan merasa bahwa ia baru akan dapat menikmati hidup jika ia sudah sukses dalam pekerjaan dan menikah. Tidak lama kemudian ia menemukan cinta sejatinya dan menikah. Setelah menikah dan punya anak, ia berkata lagi pada dirinya, bahwa ia baru akan dapat menikmati hidup apabila telah berhasil membesarkan anak-anaknya. Sebelum ia berhasil membesarkan anak-anaknya, ia telah meninggal dunia karena mengalami kecelakaan pesawat terbang. Akhirnya anak tersebut telah meninggal tanpa dapat menikmati hidup yang telah lama ia jalani. Kebahagiaan yang SejatiBanyak orang yang sukar untuk mendapatkan kebahagiaan karena mereka berusaha untuk mencari kebahagiaan external, yaitu kebahagiaan yang dirasakan apabila mereka berhasil mendapatkan atau meraih sesuatu yang di luar dirinya. Sesuatu tersebut bisa berupa harta benda duniawi, ketenaran, nama baik, harga diri, kekuasaan, dsb. Apabila seseorang mendefinisikan kebahagiaan seperti ini, maka kebahagiaan yang didapat adalah kebahagiaan semu dan bersifat sementara. Biasanya kebahagiaan tersebut berlangsung dalam tempo yang singkat. Banyak orang yang tidak menyadari bahwa kebahagiaan dapat digali dari dalam diri tiap-tiap pribadi atau disebut juga dengan kebahagiaan internal. Apabila seseorang telah berhasil menemukan kebahagiaan internalnya, maka orang tersebut akan selalu merasakan bahagia dalam hidupnya, apa pun yang terjadi dalam hidupnya. Kebahagiaan internal ini tercapai apabila kita dapat selalu merasakan ketenangan, kedamaian, dan suka cita dalam segala situasi. Orang yang telah menemukan kebahagiaan internal biasanya dapat selalu menerima kenyataan yang terjadi dalam hidupnya dengan besar hati. Cara Menemukan Kebahagiaan SejatiLangkah pertama yang dapat kita lakukan dalam usaha menemukan kebahagiaan internal adalah dengan menyadari setiap pekerjaan yang kita lakukan. Pada saat kita sedang mengerjakan tugas-tugas penting, sadarilah apa yang sedang kita kerjakan saat itu, fokuskan pikiran pada apa yang kita kerjakan. Pada saat kita makan sadarilah bahwa saat itu kita sedang makan, pada saat kita sedang bernapas sadarilah udara yang keluar dan masuk dari hidung kita. Bawalah diri kita termasuk pikiran kita untuk menyadari apa yang terjadi saat ini (present time), jangan membiarkan diri kita selalu hanyut ke dalam kesenangan maupun kesedihan masa lalu, karena semuanya itu telah berlalu dari hidup kita. Satu detik yang baru saja berlalu telah menjadi kenangan dan menjadi masa lalu (past time). Jangan pula kita selalu membiarkan diri kita terhanyut ke dalam angan-angan yang jauh di luar realitas kita (future time). Hal ini bukan berarti kita tidak boleh bermimpi atau berangan-angan untuk masa depan kita. Jika kita mempunyai suatu rencana untuk masa depan, bayangkan dalam beberapa saat, kemudian tulislah tujuan kita tersebut dan tulis juga langkah-langkah yang harus kita tempuh sebagai usaha kita meraih tujuan yang selalu kita angan-angankan. Kemudian lakukan tindakan/action sesuai dengan apa yang telah kita tulis tersebut, sehingga kita tidak selalu terhanyut ke dalam angan-angan kita dan tidak dapat menemukan angan-angan tersebut di dalam realitas hidup kita sekarang. Setelah kita menjalankan langkah demi langkah yang telah ditulis, dan sebagian dari langkah yang telah kita tuliskan tersebut sudah tercapai, barulah kita bayangkan kembali cita-cita kita ke arah yang lebih tinggi. Dengan membayangkan cita-cita yang kita tuju sambil membuat blue print dan kemudian kita jalankan, maka cita-cita yang kita tuju akan lebih mudah untuk dicapai dan kita tidak akan merasa kecewa setelah kita selesai berangan-angan dan kembali ke realitas hidup, karena sebagian dari angan-angan kita sudah mulai tercapai. Namun apabila kita tidak membuat perencanaan dalam mencapai tujuan hidup kita seperti yang selalu kita angan-angankan, maka kita akan selalu terbawa hanyut ke dalam angan-angan kita, karena apa yang kita rasakan dalam realitas hidup tidak seindah apa yang kita bayangkan dalam kacamata imajinasi kita.Satu hal yang tidak kalah pentingnya untuk diperhatikan agar kita dapat menggali kebahagiaan yang tersimpan dalam diri kita adalah dengan selalu mengucap syukur atas segala kejadian yang menimpa diri kita. Jangan selalu membanding-bandingkan kehidupan kita dengan kehidupan orang lain yang menurut kita lebih baik dari kehidupan yang kita jalani saat ini. Kita tidak akan pernah tahu apakah orang yang kita anggap lebih “baik” itu benar-benar merasakan kebahagiaan dalam hidupnya. Bisa saja ia sedang berada dalam kecemasan karena memiliki utang yang sangat besar dan sedang bersiap-siap untuk melarikan diri, atau bisa saja orang tersebut tidak dapat merasakan kebahagiaan meskipun orang tersebut kaya raya, karena hubungan antaranggota keluarganya sudah tidak harmonis lagi. Jika kita baru saja mengalami hal yang paling buruk dalam hidup kita, dan merasa kita adalah orang yang paling tidak beruntung dalam hidup ini, dan kita tidak tahu apa yang harus kita syukuri, syukurilah udara yang masih dapat kita hirup dan embuskan, syukurilah bahwa kita masih memiliki hidup ini, yang artinya kita masih memiliki kesempatan untuk memperbaiki hidup kita. Orang yang paling gagal dalam hidupnya adalah orang yang sudah tidak memiliki kesempatan lagi untuk memperbaiki keadaan dirinya, alias orang tersebut sudah meninggal. Jadi selama kita masih hidup selalu syukuri apa yang terjadi di dalam diri kita. Hal yang sangat sederhana, bukan? Namun seringkali orang lupa akan hal ini. Bahagia adalah suatu perasaan, sesuatu yang sifatnya emosional. Perasaan bahagia ini timbul dari dalam diri kita karena kita secara fisik dengan menggunakan kelima indra kita telah mengalami suatu kejadian yang menurut diri kita sendiri menyenangkan hati dan pikiran kita. Kelima indra kita tersebut berpusat pada otak kita, otak kitalah yang mengirimkan rasa sakit yang diterima dari tangan kita yang terluka, otak kita jugalah yang mengirimkan bau wangi-wangian kepada kita. Sehingga perasaan bahagia tersebut dapat kita timbulkan apabila kita mampu mengendalikan pikiran kita. Dengan mengendalikan pikiran, maka seluruh indra yang kita miliki juga dapat kita kendalikan. Apabila seluruh pikiran dan indra kita bisa kita kendalikan, maka hasrat dan keinginan kita juga dapat kita kendalikan, sehingga rasa bahagia dapat kita kendalikan.Di samping itu kita juga harus menyadari bahwa hidup ini adalah suatu sirkulasi. Ada saat kita merasa sedih karena kehilangan seseorang yang paling kita cintai, namun dengan berlalunya waktu, perasaan sedih tersebut akan hilang, dan ada pula saatnya kita merasa senang karena menemukan seseorang yang mencintai diri kita. Dengan demikian perlu kita sadari bahwa semua hal sedih akan berlalu, dan begitu pula semua hal yang menyenangkan juga akan berlalu. Sehingga jika pada saat ini kita merasa senang, sadarilah bahwa kesenangan itu baru saja berlalu, dan jika pada saat ini kita merasa sedih karena suatu kejadian menimpa kita, sadari juga bahwa kejadian tersebut telah berlalu. Selama ini kita selalu menginginkan masalah-masalah yang membuat kita stress dan sedih untuk berlalu dari hadapan kita, namun kita jarang menyadari bahwa segala hal dan kejadian yang membuat kita senang juga sudah dan akan berlalu. Jadi senang dan sedih pasti akan berlalu. Kalau kita pernah mendengar ada sebuah judul lagu yang berbunyi Badai pasti berlalu, seharusnya ditambahkan menjadi “Badai pasti berlalu, Angin sejuk pun pasti berlalu”. Sikap yang Harus DibentukSabar adalah sikap pertama yang perlu kita bina, apabila kita ingin mencoba menggali kebahagiaan yang tersimpan dalam diri kita. Kita harus sabar apabila ada tujuan dalam hidup kita yang belum tercapai, kita juga harus sabar apabila masalah menerjang kita, kita harus sabar dalam usaha kita untuk mengendalikan pikiran kita, dsb. Semua yang kita kerjakan dan usahakan membutuhkan waktu untuk diproses, dan untuk itu dibutuhkan kesabaran.Besar hati merupakan sikap kedua yang harus turut dibentuk dalam diri kita. Kita harus bisa dengan besar hati menerima semua kejadian buruk yang menimpa kita, kita juga harus berbesar hati dalam menerima kenyataan pahit yang menjadikan keadaan kita jauh berbeda dari yang kita impikan. Dengan memiliki sikap yang satu ini dalam pribadi kita masing-masing, maka kita telah memiliki 50% power (kekuatan) untuk menggali kebahagiaan.Sikap berikut yang tidak kalah pentingnya adalah tabah. Kita harus selalu tabah dalam melewati masa-masa sulit yang kita alami. Sebenarnya masa sulit itu datangnya tiba-tiba dan tanpa kita rasakan telah terjadi. Perhatikan kata telah yang saya miringkan! Kata tersebut menunjukkan bahwa kejadian tersebut sebenarnya telah berlalu, dan membuat kita merasa sedih dan susah sebenarnya adalah diri kita sendiri yang tidak mau menerima kenyataan dengan besar hati dan tabah. Jadi perasaan kita inilah yang menciptakan rasa sedih. Sikap yang menurut saya juga berperan dalam membentuk potensi kita untuk menemukan kebahagiaan adalah tidak mudah putus asa. Apabila kita mengalami suatu kegagalan yang membuat kita sedih, maka kita harus yakini bahwa kegagalan itu telah berlalu, dan perasaan gagal tersebut jangan kita pendam terus. Kita harus berusaha lebih baik lagi untuk mencapai tujuan kita dan menghapuskan perasaan sedih yang meliputi hati kita.Ringkasan dari artikel ini adalah: carilah, galilah dan temukanlah kebahagiaan dalam diri Anda sendiri. Jangan selalu mencari kebahagiaan eksternal, karena kebahagiaan eksternal tersebut sifatnya sementara. Semoga dengan membaca artikel singkat ini, Anda dapat menemukan kebahagiaan sejati dalam diri Anda ! Terima Kasih.(*)
Rabu, 18 Februari 2009
KEUTAMAAN SABAR KETIKA SAKIT
Kamis, 23 Oktober 2008
Cerpen DEMENTOR
DEMENTOR
Oleh: Luqman Abdul Chalik
Semenjak bekerja lagi di perusahaan baru, Sumringah berjanji tidak akan mengecewakan orang tuanya. Mencari pekerjaan di zaman krisis lebih sulit. Tiga bulan masa percobaan harus dilewati mulus tanpa izin, sakit, apalagi mangkir. “Kalau mau sakit ditunda dulu sampai bulan ke empat” kata kepala personalia yang mewawancarainya tanpa maksud bercanda.
Persoalan sakit tidak bisa diatur. Meskipun Sumringah berusaha menjaga diri, pada bulan kedua masa percobaan kepalanya agak pening. Dia memaksakan diri hadir. Sayangnya, wajahnya yang agak pucat tidak bisa disembunyikan. Sumringah terserang diare. Sumringah ngotot untuk menuntaskan kehadirannya bekerja satu hari penuh. Mandornya membolehkan dia istirahat sejenak di ruang mushala, tapi setelah itu Sumringah diharuskan pulang.
“Kamu bisa memaksakan diri, tapi teman-temanmu akan terganggu ka rena kamu bolak-balik terus ke jamban”,
“Tapi saya kuat kok, Bu…”
“Kamu pulang aja,
“Tapi kalau bulan depan bolos lagi atau masuk setengah hari akan tetap dianggap mangkir. Kalau sudah begitu tidak ada toleransi lagi”, mandornya menutup pembicaraan.
Meskipun hanya buruh dengan status penjahit harian, Sumringah rajin membaca buku. Ia lebih beruntung daripada teman-temanya yang cuma lulusan SD atau SMP. Setelah lulus SMA ia mengikuti beberapa kursus, dari mulai kursus menjahit, computer, dan bahasa Inggris. Sumringah tidak merasa rugi meskipun ternyata keahlian yang dihargai perusahaan hanya bekal kursus menjahit. Sumringah rajin membaca dan membuat buku harian. Dia ingin pekerjaan menulis menjadi tambahan penghasilan seperti dalam kisah nyata beberapa TKW di Hongkong.
Beberapa buku terjemahan pun dilahapnya. Yang paling berkesan adalah buku Harry Potter. Buku best seller itu menarik karena karakter tokoh-tokohnya mirip orang-orang di sekelilingnya. Menurut buku itu, di dunia ini hanya ada dua jenis manusia motivator dan dementor. Tugas motivator membuat orang lain bersemangat, tugas dementor kebalikannya. Dalam kisah novel aslinya, sosok Dementor adalah monster yang pandai menyedot energi dari musuhnya hingga tak berdaya. Dalam kehidupan sehari-hari secara tidak sadar ucapan atau perilaku kita mirip tokoh Dementor. Menciutkan nyali, membuat pesimis orang lain. Ya, Bu mandor itu mirip Dementor daripada seorang motivator, sosok sakti yang suka menyedot semangat musuh-musuhnya sampai kandas. Tanpa semangat, sehebat apapun musuhnya akan mudah dikalahkan. Menurutnya, seharusnya seorang atasan adalah teman sekaligus motivator bawahannya.
***
Di perusahaan baru Sumringah supel seperti biasanya. Sumringah selalu bersemangat mengikuti setiap kegiatan kebersamaan di perusahaannya.Dia seolah ingin mendapat teman sebanyak-banyaknya. Mendapat teman seribu masih kurang, punya musuh satu terlalu banyak. Berulang kali dia katakan kata-kata mutiara itu kepada teman-teman. Sumringah bergabung dengan Klab Hiking. Sebulan sekali mereka menjalankan rutinitas hiking, berjalan kaki naik turun bukit. Meskipun dengan dana sendiri, mereka senang dengan kegiatan itu. Mengunjungi puncak-puncak gunung di
Bulan lalu ia ikut mendaki ke Situ Ciharus, sebuah danau alam yang berada di ketinggian. Dua jam perjalanan kaki dari kaki gunung menuju danau di puncaknya benar-benar berkesan. Dalam perjalanan pulang sambil menuruni bukit dia berjanji untuk ikut lagi acara serupa. Sehat, banyak teman baru didapat. Yang selalu tak dia lupakan adalah berfoto. Uang pesanggon dari tempat bekerja dulu ditambah tabungannya cukup membeli sebuah kamera digital paling murah yang dia lihat di brosur. Kami penganut aliran narsisisme - pengagum diri sendiri. Sumringah bangga.
Sumringah tidak menyangka kalau acara hiking ke tiga yang dia ikuti akan berbeda dengan sebelumnya. Seandainya saja,… ah, Sumringah tidak boleh berandai-andai. Begini ceritanya. Hiking kali ini tidak seberat sebelumnya. Hanya berkunjung ke sebuah tempat wisata alam
Meskipun masih agak lemas, keesokan harinya beberapa teman buruh beserta dirinya memaksakan bekerja. Berita keracunan di acara hiking menyebar cepat.
“Kalian tidak akan bekerja maksimal dengan kondisi badan kurang sehat. Sebaiknya istrirahat di rumah” kata mandornya. Sebuah nasihat yang simpati padahal menjurumuskan, itulah keahlian dementor. Sumringah menemui mandornya dan memohon dirinya dikecualikan. Tapi mandornya tetap pada keputusan semula, Sumringah harus pulang.
Sumringah mencoba memahami posisi mandornya. Meskipun jabatan mandor adalah kemegahan yang harus dipertahankan, tapi jangan sok berkuasa begitu. Sama-sama cari makan, kok masih sikut-sikutan. Sambil menahan emosi, dia berusaha menjelaskan posisinya yang di ujung tanduk. Mandornya hanya diam.
Ciri-ciri dementor mudah dikenali. Mereka datang bagai orang bijak menasihati. “Sudahlah, tak ada gunanya protes, nanti hasilnya sama juga”.
“Wanita gak usah sekolah tinggi-tinggi, nantinya ke dapur juga”.
“Ngapain lu bisnis begituan, kagak bakal laku!”
Intinya mereka menciutkan nyali orang agar berhenti berbuat.
Sumringah bingung, dia harus mengadu kepada siapa lagi. Dari kejauhan dilihatnya Pak Dhani menuju ke arahnya. Pak Dhany punya jabatan lumayan di perusahaan sehingga suaranya masih didengar pihak pemegang keputusan.. Sumringah menceriterakan masalahnya kepada Pak Dhany. Lagi pula, sebagai ketua Klab Hiking dia merasa bertanggung jawab atas kejadian keracunan makanan yang berujung pada kat pemecatan ini. Mudah-mudahan Pak Dhany bisa mengangkat masalah ini ke tingkat managemen. Sumgringah berharap Pak Dhany bisa menyampakain unek-uneknya.
Hari itu juga Pak Dhany bertindak. Dia menanyakan kepada pihak manajemen, mengapa seorang mandor bisa memecat langsung anak buahnya tanpa sepengetahuan pihak personalia. Pertanyaaan selanjutnya, mengapa mandor itu menyuruh anak buahnya pulang setengah hari dengan alasan yang mengada-ada. Sumringah dan beberapa temannya sudah sehat, tidak harus pulang. Sumringah dianggap gagal melewati masa percobaan. Seharusnya seorang atasan melindungi anak buahnya yang baik agar berhasil. Ini kebalikannya, seorang atasan bahkan bertindak seolah-olah menjebak anak buahnya.
Cerita keracunan makanan ini berbuntut panjang. Urusannya bukan sekedar si empunya warung harus mengganti seluruh biaya pengobatan, tapi menyangkut diri Sumringah dan terkuaknya ketelodoran manajemen di kantornya.
Dalam buku hariannya, Sumringah mencatat kejadian pemecatan karyawan yang tidak disiplin dan korupsi sebulan yang lalu. Rincian kasusnya dia tidak tahu persis, tapi kira-kira begini: Gaji karyawan harian dibagikan oleh seorang Satpam wanita (ini juga mengherankan). Dia memegang daftar absensi harian karyawan. Absensi itu dicetak dalam selembar kartu berukuran 10 x 15 cm. Setiap masuk dan keluar pabrik, karyawan wajib memasukkan kartunya ke sebuah mesin absensi. Setelah berbunyi “Klok”, tertera jam waktu masuk dan waktu keluar. Kartu-kartu ini kemudian dikumpulkan oleh satpam wanita.
Kesimpulannya, meskipun karyawan itu sudah tidak lagi bekerja di perusahaan, jumlah kartu absensi tidak berkurang. Bagian personalia hanya menggaji karyawan berdasarkan jumlah kartu tersebut. Alhasil, satpam wanita tersebut menikmati “gaji buta” beberapa karyawan yang kenyataannya sudah tidak ada- tapi di atas kertas masih ada - selama tiga bulan terakhir. Perusahaan dirugikan. Buntut dari kasus ini, satpam wanita dan beberapa seorang mandor dipecat.
***
Selasa keesokan harinya Sumringah merasa kesehatannya sudah pulih total. Pada hari itu dengan bersemangat Sumringah kembali masuk kerja. Sayang, niatnya terhenti di pintu gerbang. Sumringah dilarang masuk ke ruang produksi tempatnya bekerja karena bagian kemanan mendapat tembusan dari mandor bahwa Sumringah sudah dipecat. Sumringah dianggap mangkir dua hari dalam tiga bulan masa percobaan.
“Sudahlah Sum, kamu masih muda dan punya keahlian. Orang sepertimu akan mudah mendapatkan pekerjaan baru. Lagi pula, kalau kamu mau ngotot, kamu mau mengadu kepada siapa?” Sumringah merasa berhadapan Dementor yang lain yang berwujud petugas satpam. .
“Bukan begitu Pak, saya merasa dijebak. Saya pikir dengan disuruh pulang, Bu Mandor kelihatannya menjamin saya tidak akan dikeluarkan, kenyataannya….” Sumringah tidak bisa melanjutkan argumentasinya. Kepalanya mulai pening. Dilihatnya sosok Dementor berlalu lalang didepannya. Mereka datang ke perusahaan itu berwajah dan berpangkat macam-macam. Wujudnya bisa teman sekamar, saudaranya dari desa, tulisan-tulisan di koran, televisi, atau suara-suara bising yang menyedot semangat manusia sampai ke dasar. Dementor itu sekarang berlalu lalang di depannya dengan wajah monster seperti bayangan di bukunya yang dia baca. Dementor merasuk, melakukan aksinya mulai dari tingkat mandor, kepala bagian, manager, sampai direktur.
Dalam kilatan silau cahaya pagi yang menerpa matanya, dilihatnya Pak Dhany, pahlawannya dan motivatornya itu menghampirinya. Anehnya, semakin dekat badan Pak Dhany yang agak subur itu mulai menciut perlahan-lahan. Tiba-tiba Pak Dhany berubah menjadi boneka kecil yang lucu. Rupanya para Dementor itu bekerja sama mengalahkan pahlawan andalannya yang akhirnya kalah juga. Sumringah mengakui para dementor itu memang itu amat sakti. “Gubrak!” Sumringah pingsan.
***
Cilampeni, Oktober 2008
Senin, 06 Oktober 2008
Susur Cikapundung
SUSUR CIKAPUNDUNG INCU ABAH
Jum’at, 3 Oktober 2008, pukul 05.30 s.d 07.15 (hari ke-3 lebaran)
Peserta dewasa UMAN, Wa IMA, Om UNI
Anak-anak: IMAM, NENG, TAQI, ARI, IBAS, AVIS, DIRA, DAUD, ADIK,
Catatan: Abit masih tidur, Muthi dan Amang jalan-jalan ke sekolah alam dan Tanggulan.
Kami mulai menuruni tangga rumah Suwigno (almarhum), masuk ke pintu benteng. Dulunya sawah tempat Wa Uman moro layangan, sekarang berubah menjadi kebun ilalang yang ada jalan-jalan dan kapling-kapling fondasi. Kata Om Uni, asalnya mau dibikin perumahan tapi gak jadi karena izinnya gak keluar.
Di atas sebelah Selatan berdiri Asrama Putri ITB, bercat putih berlantai 5 (kayaknya). Hampir 90% rampung tapi belum diisi. Di bawah asrama itu, Wa Uman dulu suka mencari “Su’ung” atau jamur dengan Nandang, Yoyo, Eri, Yuyus, atau Ujang bin Usman. Sekarang tinggal kenangan. Sawah tempat moro layangan berubah menjadi
a outbond, kata Wa Ima. Di situ kami berfoto sejenak (Lihat Foto).
Perjalanan dilanjutkan dengan menuruni sungai. Incu Abah senang sekali. Ibas, Imam, Avis, Daud,
Berjalan sebentar, kami turun lagi ke sungai. Di pinggir sungai berdiri rumah mewah lainnya. Belum berpenghuni pula. Namun, akses dari Rancabentang langsung ke rumah tsb sudah bagus, jalanan hotmix.
Perjalanan di lanjutkan karena tujuan kami adalah Kampung Padi, dimana rumah Bi Empit sedang dibangun. Ternyata kami menemukan sebuah pesantren baru kayaknya. (Waktu Wa Uman kecil Tidak Ada). Di papan pintu gerbang menghadap sungai tertulis: “Pesantren Anak Yatim Gratis Nurul Huda, Menerima Santri Anak Yatim atau Tidak Mampu”. Di depan pintu gerbang itu kami menyebrang karena ada jembatan kecil muat dua orang berselisihan. Di seberang
Juga kami bertemu Abah di atas rumah Solihin GPK. Rupanya Abah, Amang , Muthi ingin menyusul, cuma keburu ketemu di jalan itu yang jaraknya dekat-dekat 500 meter lagi dari rumah Abah. Sampai rumah, kami mandi dan makan.
--- o0o ---
Rabu, 13 Agustus 2008
Hendro dan Keajaibannya

NAMANYA HENDRA, SOBAT YANG PERTAMA KALI NGAJARIN SOAL-SOAL AJAIB
Namanya Hendro Wiguno (itu kalo di Jateng dan Jatim, di Jawa Barat cukup Hendra Saja, bukan Hendra -dick- Doang. Perawakannya sedang-sedang saja (sedang duduk, ngupil, sedang melototin monitor). Eh,… maksudku tidak tinggi tidak pendek, tapi agak bongkok mirip macan tutul baru bangun pagi di cara Flora & Fauna. Tapi jangan salah, yang menonjol bukan hanya perutnya (terutama setelah menikah), tapi otot lainnya pun, wulaah jangan dibayangin deh. Katanya sih waktu kecil pernah dilatih kung fu ala film-film Jacky Chen. Katanya juga otot-ototnya numbuh karena suka disuruh nimba air d irumah (maklum nyokapnya buka catering). “Hendra Si Anak Ajaib”, tanpa pernah ada upacara wisudaan, tahu-tahu dia dapat gelar seperti itu. Namun juga, manusia yang satu ini pernah menorehkan sejarah (wuih, keren banget istilahnya) dalam Asosiasi Dunia Pergerakan Tas dan Sejenisnya (ADPTS, ah susah akronimnya). Dialah “The Founding Father of Nordwand”. Tapi Gue lebih setuju dia disebut Dokter Ahli kandungan (soalnya Si Hendro lulusan S1) yang membidani merek Nordwan. Waktu itu pagi buta, saat ayam jantan masih mimpi, saat cacing masih terlelap dalam persembunyiannya, tiba-tiba perut ibunya Nordwan mules-mules. Maka tebak sendiri ceriteranya, Si Hendro dipanggil dan membantu membidani lahirnya Nordwan. Itulah Si Hendro, ajaib khan,.. iya khan? (Gw senang memasa kalian percaya atas racauan ini)
Pernah suatu kali dia tunjukin keajaibannya kepadaku seorang . Biarpun dia tahu, gw tidak akan terpesona karenanya,… tapi dia betul-betul tunjukkan kebolehannya yang menurut gua cuma sebatas anak kemarin sore, (kemarin sore hujan ya? Wah Citarum meluap lho, kampung Parung Halang terendam sabatas atap, cckk… ckk..) Sory kok jadi ceritera banjir. Kembali ke soal magic eh ajaib, Si Hendro ngajarin berenang kepada angsa (ibaratnya gitu), dan dia katakan ajaib pula.
Brian Gunawan
SI WAJAH AMERIKA LATIN STEVE IMMANUELE
Kalau ada taruhan lomba mirip artis Amerika latin, pasti temen gw yang satu ini juaranya. Habisnya, alis dan hidung bangirnya itu sebelas duabelas sama pacarnya Bety La Fea. Namanya Iwan Gunawan, nama yang diulang-ulang bukan melulu dominasi orang batak seperti Togar Sianipar, Piring Sembiring, atau Bunbun Tambunan. Sumpah, dia asli orang Jawa Barat alias Sunda tea. Ini teh susu,… Bukan, ini Iwan Gunawan, gak pake teh. Hidungnya yang mancung (mungkin satu moyang sama Mr. bean), pun bukan karena kerabatan sama Cecev GorbacheV (peranakan Rusia – Bojong Cihcir), dia asli dari Bale Endah setelah sebelumnya kost di belakang terminal Ciateul. Meskipun dia jago program SQL (baca Es Qi El , Sebel Qalo Liat Loe), tapi orangnya bersahaja dan sedikit manja (manusia jarang). User SQL, begitula dia menggelari dirinya sendiri. Berbusa-busalah celah samping bibirnya kalau berbicara tentang program pengolah data terkini. Namun, berbungkam pulalah dia kalau ada polisi preman tiba-tiba datang ke kantor ngecekin software bajakan. “Saya dinas luar’, begitulah smsnya padaku. (kalau kalian tertarik entar dilanjutin)